Rabu, 04 Januari 2012

Peran Lembaga Keluarga, Sekolah dan Masyarakat (Tri Pusat Pendidikan) dalam Meminimalisir Penyimpangan Sosial di Kalangan Peserta Didik


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Dalam hal ini, anak dapat perkembangan secara ilmiah dan dapat dijadikan pembelajaran dalam hidup. Perkembangan anak didik dapat ditempuh baik secara formal maupun informal. Akan tetapi, jika ketiga peranan itu tidak diseleksi secara optimal akan berdampak negatif bagi peserta didik.  Sedangkan pendidikan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
Menurut Sartain (ahli psikologi Amerika), yang dimaksud lingkungan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan (pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Selain dari pada itu, sosiologi pendidikan adalah bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum juga merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang termasuk dalam lingkup ilmu sosial antara lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi. Dari sini terlihat jelas kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitiannya adalah tingkah laku manusia dan kelompok. Sudut pandangnya memandang hakikat masyarakat, kebudayaan dan individu secara ilmiah. Sedangkan susunan pengetahuannya terdiri dari atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi. Dengan segala keunikan yang dimiliki oleh sosiologi pendidikan, kali ini kami selaku penulis akan membahas pengertian, ruang lingkup, sejarah, dan tujuan dan kegunaan sosiologi pendidikan.
Beberapa pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi (1991). Menurut George Payne, yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi pendidikan, mengemukakan secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiolgi pendidikan adalah by educational sosiologi we the science whith desribes andexlains the institution, sosial group, and sosial processes, that is the spcial relationships in which or through which the individual gains and organizes experiences”. Payne menegaskan bahwa, di dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial, proses sosial, terdapatlah apa yang yang dinamakan sosial itu individu memproleh dan mengorganisir pengalamannya-pengalamannya. Inilah yang merupakan asepek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologisnya.
Charles A. Ellwood mengemukakan bahwa Education Sosiologi is the sciense aims to reveld the connetion at all points between the cdukative process and the sosial, sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial.
Menurut E.B Reuter, sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia, dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiap-tiap individu. Jadi prinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial itu selalu saling pengaruh mempengaruhi (process sosial interaction).
Sesuai dengan uraian pada paragraph sebelumnya, dimana menurut para ahli yang berkaitan dengan sosiologi pendidikan dan ilmu pendidikan. Keterikatan antara sosiologi pendidikan dengan ilmu pendidikan yang tidak bisa dilepas satu sama lain. Dengan kata lain, tidak lepas pula dengan Tri Pusat Pendidikan yang dapat meminimalisir penyimpangan sosial di kalangan peserta didik. Maka dari itu, penulis merasa tertarik untuk dijadikan judul makalah ini.
Dalam hal ini, perkembangan peserta didik dapat di pengaruhi dengan adanya peran keluarga, peran sekolah, dan peran lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menyusun makalah dengan judul “Peran Lembaga Keluarga, Sekolah dan Masyarakat (Tri Pusat Pendidikan) dalam Meminimalisir Penyimpangan Sosial di Kalangan Peserta Didik”.

B.     Identifikasi Masalah
          Berdasarkan uraian pada latar belakang, masalah tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.      Adakah peran tri pusat pendidikan dalam meminimalisir sosial dikalangan peserta didik?
2.      Adakah peran sosiologi pendidikan dalam meminimalisir sosial dikalangan peserta didik?

C.    Batasan Masalah
          Dalam pembuatan makalah ini, penulis membatasi masalah hanya pada peran lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat (Tri Pusat Pendidikan) dalam meminimalisir penyimpangan sosial di kalangan peserta didik.

D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah diatas, maka penulis merumuskan beberapa permasalah, antara lain :
1.          Bagaimana Peran tri pusat pendidikan dalam meminimalisir penyimpangan sosial di kalangan peserta
        didik?
2.           Bagaimana Peran sosiologi pendidikan dalam meminimalisir penyimpangan sosial di kalangan peserta
        didik?

 

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Tujuan
Di dalam UU Nomor 20 tahun 2003 secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”
Sesungguhnya faktor tujuan bagi pendidikan adalah:
a.       Sebagai Arah Pendidikan, tujuan akan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.
b.      Tujuan sebagai titik akhir, suatu usaha pasti memiliki awal dan akhir. Mungkin saja ada usaha yang terhenti karena sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan berakhir. Pada umumnya, suatu usaha dikatakan berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.
c.       Tujuan sebagai titik pangkal mencapai tujuan lain, apabila tujuan merupakan titik akhir dari usaha, maka dasar ini merupakan titik tolaknya, dalam arti bahwa dasar tersebut merupakan fundamen yang menjadi alas permulaan setiap usaha.
d.      Memberi nilai pada usaha yang dilakukan
Secara Universal Tujuan umum pendidikan adalah mewujudkan kedewasaan subyek (anak) didik. Kedewasaan yang dicapai anak didik, adalah yang bersifat normatife, berupa kedewasaan masing-masing. Untuk mencapai tujuan umum berupa kedewasaan seseorang diperlukan waktu yang relatif lama. Selama waktu yang panjang itu, tujuan umum atau kedewasaan harus di wujudkan secara bertahap dan karenanya harus dijabarkan secara jelas.
Dalam hal ini, apabila tujuannya telah tercapai, maka berakhir pula usaha tersebut. Usaha yang terhenti sebelum tujuannya tercapai, sesungguhnya belum dapat disebut berakhir, tetapi hanya mengalami kegagalan yang antara lain disebabkan oleh tidak jelasnya rumusan tujuan pendidikan. Maka dari itu, penulis memiliki tujuan pendidikan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui sejauhmana peran tri pusat pendidikan dalam meminimalisir sosial dikalangan peserta didik?
2.      Untuk mengetahui sejauhmana peran sosiologi pendidikan dalam meminimalisir sosial dikalangan peserta didik?

B.     Manfaat
     Dalam menyusun makalah ini, penulis sangat mengharapkan dalam penyusunan makalah ini bermanfaat bagi penulis dan semua civitas masyarakat yang pro aktif dalam meningkatkan pendidikan dalam meminimalisir penyimpangan sosial di kalangan peserta didik.

 C.    Peran Tri Pusat Pendidikan dalam Meminimalisir Penyimpangan Sosial di Kalangan Peserta
       Didik.

Istilah Tri Pusat Pendidikan adalah istilah yang digunakan oleh tokoh pendidikan Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara yang menggambarkan lembaga atau lingkungan pendidikan yang ada disekitar manusia yang mempengaruhi perilaku peserta didik. Dalam kegiatan 4 ini berisikan tiga pokok bahasan, yaitu (A) Pendidikan keluarga, (B) Pendidikan dalam sekolah, (C) Pendidikan di dalam masyarakat. Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dapat 1. Menjelaskan pentingnya pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pendidikan anak, 2. Menjelaskan pentingnya pendidikan di sekolah sebagai pendamping dalam keluarga, 3. Menjelaskan pentingnya pendidikan masyarakat sebagai pelengkap pendidikan anak dalam keluarga dan sekolah.
Pendidikan dapat digolongkan dalam berbagai jenis. Penggolongan itu tergantung kepada dari mana kita melihatnya. Dilihat dari tempat berlangsungnya pendidikan, maka Ki Hajar Dewantara, membedakan menjadi tiga dengan sebutan Tri Pusat Pendidikan (Ahmadi ,1991) yaitu: Pendidikan dalam keluarga (pendidikan informal), pendidikan dalam sekolah (pendidikan formal), dan pendidikan di dalam masyarakat (pendidikan non formal). Sedangkan dilihat dari cara berlangsungnya pendidikan dibedakan menjadi pendidikan fungsional dan pendidikan intensional. Pendidikan fungsional adalah pendidikan yang berlangsung secara naluriah, tanpa rencana dan tujuan tetapi berlangsung begitu saja. Sedangkan pendidikan intensional adalah lawan dari pendidikan fungsional. Bila dilihat dari aspek pribadi yang disentuh, maka terdapat jenis pendidikan Orkes (Olah Raga Kesehatan), Pendidkan Sosial, Pendidikan Bahasa, Pendidikan Kesenian, Pendidikan Moral, Said Suhil Achmad: Pengantar Pendidikan. Pendidikan Seks dan sebagainya.
Sedangkan kalau dilihat dari jenis dan jenjang, maka Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan, sedangkan jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
Dalam hal ini, untuk lebih terperinci yang berkaitan dengan peran tri pusat pendidikan dalam meminimalisir sosial dikalangan peserta didik.
 1.      Peran keluarga
       Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.
Pendidikan keluarga berfungsi:
a.       Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
b.      Menjamin kehidupan emosional anak
c.       Menanamkan dasar pendidikan moral
d.      Memberikan dasar pendidikan sosial.
e.       Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.

2.      Peran Sekolah
       Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang bersifat pendidikan formal.
       Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut;
a.       Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan
      budi pekerti yang baik.
b.    Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
c.  Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan, pengetahuan dan wawasan yang bersifat universal baik yang ilmiah maupun tekhnolgi.
d.      Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.

3.      Peran Masyarakat
       Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
       Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan.
 
D.    Pengaruh Timbal Balik antara Tri Pusat Pendidikan dalam Meminimalisir Penyimpangan
      Sosial di Kalangan Peserta Didik.

            Setiap pusat pendidikan dapat berpeluang memberikan kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan, yakni:
1.      Pembimbingan dalam upaya pemantapan pribadi yang berbudaya
2.      Pengajaran dalam upaya penguasaan pengetahuan
            3.      Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan

E.     Peran Sosiologi Pendidikan dalam Meminimalisir Peyimpangan Sosisal di Kalangan Peserta    Didik
            Secara harfiah atau etimologi (definisi nominal), Sosiologi berasal dari bahasa             Latin: Socius = teman, kawan, sahabat, dan logos = ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut terminologi, definisi Sosiologi berdasarkan pendapat para ahli sebagai berikut :
a.       Sosiologi adalah studi tentang hubungan antara manusia (human relationship). (Alvin Bertrand)
b.      Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis. (Mayor Polak)
c.       Sosiologi adalah ilmu masyarakat umum. (P.J. Bouwman)
d.   Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi).
            Jadi kami selaku pemakalah dapat menyimpulkan bahwa sosiologi itu adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu interaksi seseorang dengan orang lain dan lingkungan masyarakat. Sekarang bagaimana dengan pengertian sosiologi pendidikan itu sendiri?
Mengenai pertanyaan diatas ada dua pendapat, yaitu:
1.      Menurut Prof. Dr. S. Nasution, MA. Mengatakan bahwa memberikan definisi sosiologi pendidikan tidak mudah. Para ahli pendidikan dan ahli sosiologi telah berusaha untuk memberikan definisi sosiologi pendidikan, namun definisi-definisi itu kebanyakan tidak terpakai oleh orang lapangan. Kesukaran untuk memperoleh definisi yang mantap tentang sosiologi pendidikan antara lain disebabkan :
(a)        sukarnya membatasi bidang studi di antara bidang pendidikan dan bidang sosiologi.
(b)        kurangnya penelitian dalam bidang ini, dan
(c)        belum nyatanya sumbangannya kepada pendidikan umumnya dan pendidikan guru khususnya.
2.      Pendapat yang kedua, salah satu ahli memberikan pengertiannya, yaitu:
(a)    Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan
Dalam hal ini penulis dapat menyimpulkan, bahwa peran dari Tri Pusat Pendidikan dan Sosiologi Pendidikan mempunyai peran penting dalam meminimalisir penyimpangan sosial di kalngan peserta didik, baik secara langsung ataupun secara tidak langsung.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasar uraian uraian pada bab I dan II, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut.
1.             Tri Pusat Pendidikan merupakan tiga unsur penting yang sangat berperan dalam pendidikan dan menjadi pusat kegiatan pendidikan.
2.     Akibat dari perkembangan zaman dan keterbatasan orang tua dalam mendidik anak, maka kegiatan pendidikan juga dilaksanakan disuatu lembaga yang disebut sekolah atau madrasah. Pendidikan yang dilakukan disekolah atau madrasah disebut pendidikan formal.
3.             Diluar pendidikan informal salah satunya lingkungan masyarakat, hal ini merupakan tempat atau unsur yang sangat berperan penting dalam pendidikan dan memiliki pengaruh besar terhadap peserta didik baik secara langsung maupun secara tidak langsung
B.     Saran
Menyadari betapa pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat (Tri Pusat Pendidikan) dalam meminimalisir penyimpangan sosial di kalangan peserta didik, maka menurut penulis :
1.             Peran keluarga sebagai tempat utama yang menerima pendidikan.
2.         Peran guru sebagai ujung tombak yang terdepan harus melaksanakan tugas secara optimal dan professional
3.      Peran masyarakat sebagai pendidikan non formal yang bersifat melekat bagi perkembangan peserta didik.
penulis memberikan saran yang berkaitan dengan Tri Pusat Pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat) sebagai berikut :
Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat harus menyadari betul akan peranan penting yang dituntut dan mereka untuk melaksankan di dalam lingkungan masyarakat setempat sebagai golongan profesi maupun warga Negara, sebagai agen pembangunan dan perubahan dalam meningkatkan kualitas peserta didik atau sebagai masyarakat yang jika diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.


Daftar Pustaka


Ahmadi, (1991).Sosiologi Pendidikan.Jakarta



Undang-undang.no.20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar